Berita Zakat

August 28, 2007

MEMBANGUN SALING PENGERTIAN byrzi

Filed under: Nesw — beritazakat @ 7:52 am

BANDUNG. Pemuda dari tiga negara berbaur di pelatihan kepemudaan. ”Pemuda di Indonesia itu rajin menghafal,” ujar peserta dari Malaysia.

Singapura hanya berjarak satu jam perjalanan udara dari Jakarta. Tapi Mahyudin Sabri bin Zainal dan Khairul Anwar, dari Singapura, hanya tahu Indonesia sebagai negara yang penuh praktik korupsi dan bencana alam.

Pandangan dua pemuda Singapura itu berubah setelah mengikuti acara Pelatihan Kepemudaaan Asia Tenggara. Mereka tahu ada kekayaan budaya Indonesia yang selama ini tidak mereka ketahui.

Bandung menjadi tempat pelatihan yang diikuti pemuda dari Singapura, Malaysia, dan Indonesia itu, pada 20-23 Agustus 2007. ”Awalnya kami merasa canggung, karena mereka menggunakan bahasa Melayu ditambah bahasa Inggris. Namun lama-kelamaan kami akhirnya bisa juga beradaptasi,” ujar Asep Ahmad, peserta dari Bandung.

Peserta yang terdiri dari dua orang perwakilan dari Malaysia, delapan orang perwakilan dari Singapura, dan 33 orang dari Indonesia awalnya sulit berbaur lantaran latar budaya dan bahasa yang berbeda. Kondisi canggung menghilang setelah masing-masing mengenalkan diri masing-masing. ”Untungnya, kami bisa memahami apa yang mereka ucapkan sehingga komunikasi bisa berjalan,” ujar Asep.

Ini adalah acara untuk mengkampanyekan International Youth Day yang diperingati setiap September. Rumah Zakat Indonesia, selaku penyelenggara acara ini, bertujuan memunculkan saling pengertian di antara peserta. ”Sejak tahun 1998 Rumah Zakat sangat concern terhadap masalah kepemudaan. Kami mengharapkan pemuda dapat menjadi garda terdepan dari perubahan” tutur CEO Rumah Zakat Indonesia, Virda Dimas Eka Putra.

Pada pelatihan ini peserta mendapatkan materi yang lebih memfokuskan pada pelatihan seputar kepemimpinan dan cara pengelolaan masa depan. Tujuannya adalah agar mereka dapat memperoleh gambaran tentang apa yang harus mereka hadapi di masa yang akan datang. Menurut Dewan Pembina Rumah Zakat Indonesia, Abu Syauqi, cita-cita Rumah Zakat Indonesia adalah ingin membangun silaturahmi dengan negara-negara lain di segala bidang, termasuk pada bidang pendidikan dan kebudayaan.
>
Hari pertama mengikuti pelatihan, para peserta tampak antusias menyimak materi. Mereka mendapat materi tentang ‘Potensi dan Tantangan Ekonomi Asia Tenggara’ yang dibawakan oleh Okeu Setiadi. Ada pual materi ‘Manajemen Waktu’ yang dibawakan pemateri dari Singapura, Nailul Hafidz. Nailul memberikan perspektif cara menghadapi informasi yang diberikan media dan feed back yang harus dilakukan, dengan melakukan berbagai simulasi kepada peserta.

Mereka pun harus melakukan sharing budaya dan lokakarya keterampilan. Mereka memamparkan kebudayaan dan potensi wisata negara mereka. Soal bahasa, mereka pun saling bertukar kosa kata. Mereka baru tahu jika ada kosa kata yang dinilai sopan di negara lain, ternyata sebaliknya di negara mereka.

Outbound
Di hari ketiga, peserta mengikuti pelatihan di luar ruang. Mereka pergi ke Ranca Upas, di Bandung selatan, mengikuti kegiatan out bound.

”Banyak games yang kita sajikan pada kegiatan kali ini. Di antaranya flying fox dan spider web. Tujuannya untuk melatih jiwa kepemimpinan, mengatasi rasa takut, dan berpikir untuk memecahkan suatu masalah dengan waktu sesingkat-singkatnya,” ungkap penanggung jawab outbound, Ali.

”Kami sempat kedinginan disini karena cuacanya cukup berbeda dengan di Malaysia. Apalagi kami tadi mengikuti games yang menggunakan air,” tutur peserta asal Malaysia, Ummi. Tapi, udara dingin Ranca Upas ini tak mengurangi keceriaan peserta bahu-membahu mengatasi rintangan yang dibuat tim outbound dari Echo Ethno.

Mereka pun berharap acara seperti ini diadakan secara rutin. ”Kalau perlu diperbanyak, karena ini baik untuk pemuda dalam rangka mencari pengalaman dan networking,” ujar Khairul.

Tomo, relawan Rumah Zakat, mengatakan kelanjutan dari kegiatan ini akan diwujudkan dalam program youth care. ”Di dalamnya terdapat program pembinaan, pendidikan, dan pelatihan yang dilakukan secara berkesinambungan,” kata Tomo.

Lantas, apa kesan pemuda Singapura dan Malaysia tentang peserta dari Indonesia? ”Pemuda di Indonesia begitu peramah. Mudah-mudahan seterusnya kita bisa follow up dan keep in touch,” ujar Khairul.

”Setelah mengikuti pelatihan selama beberapa hari ini, saya melihat bahwa pemuda di Indonesia itu rajin menghafal. Berbeda sekali dengan di Malaysia, kami tidak banyak menghafal, tetapi lebih diajarkan untuk lebih memahami dan berpikir kritis,” jelas Fatimah – peserta asal Malaysia.***

Dimuat dalam koran Republika, Minggu, 26 Agustus 2007.

August 23, 2007

Empat Negara Sepakat Dirikan Dewan Zakat

Filed under: DZAT — beritazakat @ 2:51 am

 

Empat negara di Asia Tenggara yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam bersepakat membentuk dewan zakat dan rencananya akan dideklarasikan pada Februari 2006 di Malaysia.
“Empat negara tersebut akan bekerjasama dalam hal pengelolaan zakat serta penyalurannya kepada masyarakat. Deklarasi dewan zakat tersebut dilaksanakan tanggal 6-8 Februari 2006 yang rencanya dibuka oleh Perdana Menteri Malaysia, Abdullah Ahmad Badawi,” kata General Manager Penggalangan Dana Dompet Duafa M. Arifin Purwakananta kepada pers di Jakarta, Kamis (20/10).
Arifin menjelaskan bahwa ide pembentukan dewan zakat tersebut berasal dari dompet Duafa dan Departemen Agama (Indonesia). Tapi ternyata, ketiga negara tetangga tersebut menyambut antusias ide ini mengingat animo pembayaran zakat yang makin bertambah dari tahun ke tahun.
Saat ini, lanjutnya, tim perumus yang terdiri atas perwakilan dari tiap negara tengah menggodok formulasi dewan zakat yang akan menggalang dana dari keempat negara tersebut.
Dari Indonesia, tim perumus terdiri atas lembaga amil zakat dompet duafa, Departemen Agama dan institut manajemen zakat (IMZ). Dari Malaysia diwakili oleh Jabatan Wakaf, Zakat dan Haji (JWZH), Pusat Pungutan zakat wilayah persekutuan, Institut Kajian Zakat Malaysia (IKaZ) dan UiEM.
Sedangkan dari Singapura diwakili oleh Majelis Agama Islam Singapura dan Brunei Darussalam diwakili oleh Majelis Agama Islam Brunei Darussalam.
Menurut program direktur dompet duafa, Ahmad Juwaini, pembentukan dewan zakat Asia Tenggara ini merupakan upaya memperoleh standarisasi, kompetensi pengelolaan zakat di Asia Tenggara.
Sementara itu, Direktur Pengembangan Zakat dan Wakaf Depag, Tulus menyebutkan bahwa dewan akan sangat diperlukan guna mengimbangi pertumbuhan jumlah wajib zakat.
Potensi Indonesia
Tulus mengatakan bahwa potensi zakat di Indonesia sendiri mencapai sekitar Rp7 triliun per tahun, namun realisasinya masih sangat jauh dari potensi tersebut yakni Rp500 miliar per tahun.
Dengan dibentuknya dewan zakat empat negara ini diharapkan potensi pembayaran zakat dapat diketahui secara lebih baik guna memberikan bantuan setiap negara anggota yang terkena musibah seperti tsunami di NAD.
Arifin mencontohkan ketika Indonesia mengalami bencana alam tsunami tahun 2004 berbagai badan zakat menyerahkan bantuan mereka secara terpisah-pisah.
“Kalau sudah ada dewan zakat Asia Tenggara diharapkan hal itu tidak akan terulang karena sudah ada koordinasi yang lebih baik,” ungkapnya.
Diantara empat negara yang sepakat yang membentuk dewan tersebut ada negara yang sangat makmur ada yang miskin.
Singapura dan Brunei misalnya, mereka kesulitan mencari penerima zakat, sementara Indonesia begitu banyak orang yang berhak menerima zakat. “Itu pula alasan dewan zakat ini kita bentuk supaya ada alokasi yang lebih maksimal,” katanya. (*/lpk)

Dewan Zakat Asia Tenggara Dibentuk

Dewan Zakat Asia Tenggara Dibentuk
Pengelolaan zakat Asia Tenggara ditujukan untuk mewujudkan Baitulmal internasional.
KUALA LUMPUR–Praktisi zakat di Asia Tenggara siap membentuk Dewan Zakat Asia Tenggara (DZAT). Lembaga ini diharapkan bisa mengoptimalkan pemanfaatan zakat untuk mengurangi penduduk miksin di tanah Serantau.
Persidangan untuk melahirkan Dewan Zakat Asia Tenggara itu digelar di Kuala Lumpur. Diikuti oleh wakil pemerintah, pengelola zakat dan pendidik, konferensi zakat Asia Tenggara ini dibuka kemarin di Hotel Grand Seasons, Kuala Lumpur Malaysia. Acara tiga hari itu dihadiri perwakilan dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura. Selain itu, juga hadir sebagai undangan utusan dari Thailand, Filipina, Vietnam dan Laos.
M Arifin Purwakananta, Direktur Institut Manajemen Zakat (IMZ) yang hadir pada pertemuan itu menjelaskan semula sidang pertama akan dibuka oleh PM Malaysia, Abdullah Ahmad Badawi. ”Namun karena berhalangan diwakili Menteri di Jabatan Perdana Menteri Malaysia, Datuk Abdulah MD Zain.” Dari Indonesia tampak hadir Menteri Agama Republik Indonesia, Maftuh Basyuni, Duta Besar RI di Malaysia, Lembaga-lembaga Amil Zakat (LAZ), dan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).
Menurut Arifin, pertemuan itu merupakan awal deklarasi terbentuknya Dewan Zakat Asia Tenggara. Dewan Zakat Asia Tenggara lahir dalam rangka mengurangi penduduk miskin. Zakat adalah instrumen yang bisa mengurangi kemiskinan.
Selain itu, konferensi zakat ini berlangsung menyusul pesatnya pertumbuhan zakat dan lembaganya di kawasan Serantau ini. ”Berbagai organisasi zakat yang tumbuh di negara ASEAN selama 10 tahun terakhir telah menggelorakan ranah zakat di wilayah serantau,” katanya dalam siaran pers yang diterima Republika kemarin.
Dewan Zakat Asia Tenggara (DZAT), kata Arifin, merupakan wadah berhimpunnya tokoh dan pelaku zakat di Asia Tenggara. Dewan ini akan berisikan orang-orang yang memahami persoalan zakat dari masing-masing negara. Peran yang diharapkan dari Dewan ini antara lain adalah, menjadi rujukan dalam memutuskan seputar permasalahan zakat di tingkat regional, baik dalam hal fikih maupun manajemen, melakukan standardisasi kompetensi pengelola zakat, baik pada level amil, maupun manajemen organisasi, melakukan kajian dan penelitian dalam rangka pengembangan zakat di Asia Tenggara serta menggelar seminar dan kerja sama pemanfaatan zakat.
Pengembangan Zakat Perlu Sinergi
Arifin menjelaskan meskipun pengelolaan zakat mulai berkembang, tapi belum disertai dengan sinergi yang baik. Melihat potensi tumbuhnya pengelolaan zakat, Dompet Dhuafa Republika (DD) menginisiasi pembentukan Dewan Zakat Asia Tenggara.
Ide ini respons dari pemerintah Malaysia, Indonesia, Singapura, dan Brunai Darussalam. Selama proses persiapan pembentukan Dewan Zakat Asia Tenggara ini dirumuskan di Kuala Lumpur Malaysia.
Anggota dari tim perumus ini meliputi Indonesia diwakili oleh, Lembaga Amil Zakat Dompet Dhuafa, Departemen Agama dan Institut Manajemen Zakat (IMZ). Dari Malaysia diwakili Jabatan Wakaf Zakat dan Haji (JWZH) mewakili kerajaan Malaysia, Pusat Pungutan Zakat Wilayah Persekutuan (PPZ Wilayah Persekutuan), Institut Kajian Zakat Malaysia (IKaZ), dan UiTM. Sementara dari Singapura diwakili Majelis Agama Islam Singapura (MUIS), dan Brunai Darusalam diwakili Majelis Agama Islam Brunai Darussalam (MUIB).
”Sebagai inisiator, Dompet Dhuafa berharap keberadaan Dewan Zakat ini akan dapat menghimpun persatuan institusi pengelola zakat di Asia Tenggara,” ujarnya menambahkan.
Ikhtisar*Dompe Dhuafa mengusulkan pembentukan Dewan Zakat Asia Tenggara beberapa tahun lalu.*Praktisi pengelola zakat, pemerintah, pendidik sepakat membentuk Dewan Zakat Asia Tenggara untuk mempercepat pengentasan kemiskinan.(dam )

Tuesday, November 22, 2005

Dewan Zakat Asia Tenggara

Fundament

Zakat adalah rukun ekonomi dalam Islam. Sebagai sebuah konsep dasar, zakat telah dikembangkan menjadi komponen ekonomi ummat sejak peradaban Islam dibangun dan disyiaarkan. Selanjutnya Baitul Maal sebagai instrument penting pengelolaan zakat telah berkembang menjadi katalisator global bagi problematika dan pengembangan kesejahteraan sosial dan ekonomi ummat. Ketika kemunduran umat sampai pada titik kulminasi bawahnya, maka rukun zakat harus ditemukan, dikembangkan dan dioptimalisasi menjadi alternative menuju kesejahteraan ummat.

Kebangitan zakat Internasional didorong oleh semangat optimalisasi syariat Zakat bagi upaya alternative sebagai jawaban atas keterpurukan umat di bidang sosial dan ekonomi. Lebih jauh lagi upaya ini dilandasi dengan semangat kuat untuk mendorong dimplementasikannya keluhuran zakat sebagai rukun ekonomi Islam yang pada gilirannya dengan optimalisasi instrument ekonomi syariah yang kuat akan mensejahterakan masyarakat dunia pada umumnya.

Visi Zakat harus diusung oleh keterpaduan semangat membangun bersama diantara praktisi, pengamat, akademisi, government, dan masyarakat luas terutama di negara-negara kaum muslimin dari berbagai belahan benua.

Gagasan membangkitkan zakat dengan melahirkan badan internasional bagi optimaslisasi zakat mestilah dimulai dari tekad yang bulat, kesiapan yang matang dan dilakukan dengan kemurnian tujuan. Gagasan ini sebagaimana tanaman juga mesti ditanam dan ditumbuhkan pada persemaian yang subur.

Kebangkitan zakat di Asia Tenggara akan menjadi bagian penting dan landasan yang kuat bagi lahirnya optimalisasi zakat di tingkat dunia.

Milestone

Dewan Zakat Asia Tenggara (Southeast Asia Zakat Council) Dan Penyelenggaraan Persidangan Dewan Zakat Asia Tenggara 2006 (Southeast Asia Zakat Conference 2006) digagas melalui serangkaian petemuan sebagai berikut :

Meeting 1st
(DD, IMZ, PPZ dan IKAZ) Kuala Lumpur, 2 Mei 2005
Hadir pada saat itu para penggagas Dewan Zakat Asia Tenggara yaitu Moh. Arifin Purwakananta (DD), Ahmad Juwaini (IMZ), En Rais Haji Alias, Amran Hazali bersama beberapa manager (PPZ), Prof. Madya Abdul Halim M. Noor dan Prof Madya Hj Rawi Nordin (IKAZ). Pada pertemuan ini dikemukakan pentingnya optimalisasi zakat di tingkat asia tenggara. Usulan DD tentang pentingnya sebuah konferensi zakat asia tenggara yang akan melahirkan Dewan Zakat Asia Tenggara disambut baik oleh pihak PPZ dan IKAZ. Meeting yang diselenggarakan di kantor pusat PPZ ini Kuala Lumpur ini sepakat melibatkan pihak-pihak yang akan mendukung gagasan ini yakni Jawatan Wakaf, Zakat dan Haji (JWZH) Kerajaan Malaysia dan Dir. Pengembangan Zakat dan Wakaf Depag Pemerintah RI dan Pimpinan FOZ Indonesia serta melibatkan Negara Asia tenggara lainnya. Pada kesempatan ini juga telah disepakati konferensi diadakan di Malaysia dengan objektif utama lahirnya Dewan Zakat Asia Tenggara. Pertemuan ini selanjutnya mengagendakan Steering Committee meeting diadakan di Jakarta. Sejak pertemuan ini DD dan IMZ mendorong gagasan ini ke pihak Depag dan FOZ dan PPZ dan IKAZ mendorong menyampaikan gagsan ini ke pihak JWZH Kerajaan Malaysia.

Meeting 2nd
(DD, IMZ, , PPZ, IKAZ, Dir. PZW Depag RI dan FOZ) Jakarta, 30 Juli 2005
Meeting ini dihadiri pihak Indonesia Rahmad Riyadi, Yuli Pujihardi, Moh. Arifin Purwakananta (DD), Ahmad Juwaini, Kushardanta (IMZ), Drs. H. Tulus (Dir. Pengembangan Zakat dan Wakaf Depag RI) serta Naharus Surur (FOZ) serta pihak Malaysia En Rais Haji Alias, En Amran Hazali (PPZ), Prof. Madya Abdul Halim M. Noor dan Prof Madya Hj Rawi Nordin (IKAZ). Menghasilkan beberapa kesepakatan penting seperti pembiayaan konferensi, dukungan pihak JWZH Kerajaan Malaysia, dan waktu persidangan.

Meeting 3st
(DD, IMZ, , PPZ, IKAZ, Dir. PZW Depag RI, FOZ, JWZH, MUIS Singapura, MUIB Brunei Darussalam), Kuala Lumpur, 18 Oktober 2005
Meeting yang diberi nama Mesyuarat Persidangan Zakat Asia Tenggara ini dihadiri oleh Yuli Pujihardi, Moh. Arifin Purwakananta (DD), Ahmad Juwaini(IMZ), Drs. H. Tulus (Dir. Pengembangan Zakat dan Wakaf Depag RI) serta Naharus Surur (FOZ) serta pihak Malaysia Tn Dahan, En Rais Haji Alias, En Amran Hazali (PPZ), Prof. Madya Abdul Halim M. Noor dan Prof Madya Hj Rawi Nordin (IKAZ), Dr. Che Omar Hj. Awang , En Abd Rahim (JWZH), Pn. Hjh. Shamsiah Abd Karim, En. Rizal Abu Bakar (MUIS Singapura)dan Tuan Hj. Md. Shukri Hj. Ahmad (MUIB Brunei Daarus Salam) serta beberapa aktifis PPZ dan IKAZ. Pertemuan ini menghasilkan ketetapan penting berupa kesepakan 4 wakil negara tentang penrlunya dibentuk Dewan Zakat Asia Tenggara. Juga diputuskan beberapa hal teknis seperti acara persidangan, logo kegiatan, pantia pelaksana, lokasi dan perubahan waktu persidangan Februari 2006. Rapat juga memutuskan Draft Dewan Zakat Asia Tenggara dibicarakan oleh tim yang ditunjuk dari DD, PPZ, IMZ dan IKAZ sebagai draft resolusi persidangan nanti. Diputuskan juga untuk mengadakan Meeting diadakan di Bandung Indonesia 24 Novembe
r 2005.

Steering Committe of South East Asia Zakat Conference 2006


Berfoto setelah meeting di Jakarta
Berdiri:
Kushardanta, Moh. Arifin Purwakananta, Ahmad Juwaini, Naharus Surur, Juli Pujihardi, Prof. Abd Musa, Encik Amran Hazali
Duduk :
Drs. Haji Tulus, Encik Rais Hj Alias, Rahmad Riyadi, Prof. Abd. Halim

August 21, 2007

Kepedulian Masyarakat Pasar Modal

Filed under: Nesw — beritazakat @ 6:30 am
 
 
BEKASI – Dalam rangka ulang tahun ke-30 pasar modal Self Regulatory Organisation (SRO) Pasar Modal melakukan bakti sosial di Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (5/8/2007).

Dalam bakti sosial ini, SRO Pasar Modal memberikan pengobatan gratis terhadap 300 orang warga sekitar Bantar Gebang. Rata-rata masyarakat mengalami infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) dan semua penyakit ringan.

Acara bakti sosial ini dihadiri oleh Direktur Utama Bursa Efek Jakarta (BEJ) Erry Firmansyah, Direktur Utama bursa efek Surabaya (BES) Bastian Purnama, Direktur Utama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Ananta Wiyogo, dan Direktur Utama Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI) Inarno Djayadi. Sedangkan dari pengawas, hadir juga Kepala Biro Pemeriksa Keuangan Perusahaan Sektor Jasa, Nurrachman dan Direktur Yayasan Dana Sosial al Falah (YDSF) Hamy Wahjunianto.

Selain pengobatan, acara bakti sosial ini juga diisi dengan penyerahan 300 paket sembako berisi beras, minyak goring , gula pasir, dan mie instan. Untuk 300 anak juga diberikan vitamin tambahan, susu, dan peralatan sekolah.

Ketua Panitia HUT ke-30 Bastian Purnama mengatakan tujuan dari kegiatan ini adalah mendekatkan masyarakat Pasar Modal Indonesia kepada lingkungan sosialnya. ”Kami berupaya mengubah kepedulian dan kepekaan perusahaan dalam membantu penyehatan masyarakat,” ujar Bastian yang juga Direktur Utama Bursa Efek Surabaya ini. Selain itu Bastian juga menegaskan kegiatan ini sebagai perwujudan dari program Corporate Social Responsibility dari Self Regulatory Organization/SRO (BEJ, BES, KPEI, KSEI) dan Bapepam-LK.
Direktur YDSF Hamy Wahjunianto mengamini pernyataan Bastian. “Kepedulian masyarakat pasar modal bisa menjadi inspirasi bagi perusahaan lain,” tuturnya. Kegiatan ini terlaksana berkat kerjasama panitia HUT ke-30 pasar modal dengan YDSF.

Blog at WordPress.com.