Berita Zakat

September 10, 2007

Zakat untuk Rumah Sakit Gratis

Filed under: Nesw — beritazakat @ 4:14 am

Zakat untuk Rumah Sakit Gratis
Presiden dan Wakil Presiden, direncanakan akan meresmikan rumah sakit gratis di bilangan Menteng Jakarta Pusat. Rumah sakit yang ditopang dari zakat, infak, sedekah, dan wakaf masyarakat.

Erie Sudewo, salah satu tokoh zakat Indonesia dan pendiri Dompet Dhuafa Republika, masih ingat pertanyaan Joko Gondrong, “Kapan DD punya rumah sakit?” Tanya Joko, sewaktu masih bergabung di Republika, pada 1994, dalam perjalanan menuju Lamongan, Jawa Timur.

Pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Sejak Dompet Dhuafa lahir, lembaga ini tak pernah henti kedatangan ribuan mustahik (orang miskin). Selain masalah ekonomi dan pendidikan, problem besar mustahik adalah kesehatan. Sakit bagi mustahik ibarat kiamat. Sementara, Dompet Dhuafa hanya tumbuh oleh kumpulan recehan-recehan dari masyarakat. Pun, nilainya tak sebanding dengan jumlah mustahik yang makin meruyak tiap harinya.

Pergulatan hebat berkecamuk di batin Erie Sudewo kala itu. Dompet Dhuafa punya rumah sakit rasanya muskil. Hingga pada tahun 2000, Dompet Dhuafa mulai meyakinkan langkah menjawab berjuta keraguan itu. Banyak orang pesimis, namun tak berkurang yang datang memberi dukungan. Bagi sebagian yang tidak yakin, menawarkan sebuah solusi silang. Perpaduan, antara layanan kesehatan gratis dengan komersil.

Namun Dompet Dhuafa menolak, dengan keyakinan bahwa dana zakat abadi. Dompet Dhuafa melihat kemuskilan ini dengan kacamata zakat. Sebaliknya, subsidi silang lebih pada pendekatan bisnis semata. Dompet Dhuafa tak menghendaki, ada perbedaan cara tersenyum dalam melayani para pasien. Jika yang membayar, disambut ramah. Sementara yang gratis, dengan tampang cemberut. Ini sebuah ketidakadilan yang harus dikikis.

LKC, diakui berbagai pihak sebagai program pendayagunaan dana zakat yang cukup fenomenal. Dari data pasien rawat jalan dan rawat inap, sudah mencapai 150.000 pasien dari warga miskin yang berobat ke LKC, sejak tahun 2000. Untuk tahun 2007 ini, member tetap di LKC 55.000 mustahik. Dari 55.000 anggota, rata-rata 100 kunjungan pasien per hari. Itu di luar pasien rujukan dan spesialis. Dalam setahun, rata-rata 36.500 mustahik yang tertangani, mereka mayoritas dari wilayah Jakarata, Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi.

Dalam melayani kesehatan mustahik ini, LKC menebar maslahat melalui luar gedung dan dalam gedung. Aksi di luar seperti pengobatan masal, aksi medis bencana alam, dan sebagainya. Sementara, layanan dalam gedung berpusat di gerai sehat Ciputat. Gerai sehat salah satu program utama LKC. Sebuah klinik dengan layanan kesehatan, yang didirikan di tengah masyarakat kurang mampu. Selain di Ciputat, LKC juga memiliki cabang di Cipulir dan Bekasi.

Adapun, layanan dalam gedung LKC memiliki sembilan unit layanan. Yakni: rawat jalan (umum, gigi, spesialis), rawat inap dan rujukan rumah sakit, kebidanan, farmasi, laboratorium, radiology, layanan gizi, dan pemeriksaan diagnostik lainnya.

Rumah Sehat Sunda Kelapa
Belajar pada pengelolaan LKC Ciputat, Dompet Dhuafa dengan dukungan besar dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan LAZ Masjid Agung Sunda Kelapa, membuka Rumah Sehat Sunda Kelapa. Kali ini, lebih besar dan lebih lengkap dari LKC Ciputat. Berada di pusat kawasan Menteng – dikenal sebagai kawasan elit – sehingga banyak orang bertanya, adakah mustahik di sana? Atau ini hanya sebuah wadah pameran kebajikan.

Atas keraguan ini Presiden Dompet Dhuafa, Rahmad Riyadi mengungkapkan. Pemilihan tempat di tengah komunitas mapan di Menteng ini, sebagai sarana menjalin kedekatan kalangan muzaki (orang kaya) dengan mustahik. Selain faktor komitmen tinggi, dari pengurus Masjid Sunda Kelapa yang nantinya akan mengelola rumah sakit ini. Bahkan pembiayaan terbesar dari pembangunan rumah sakit ini berasal dari jamaah Masjid Agung Sunda Kelapa. Jika pada kesempatan lain, ada pihak yang menghendaki bekerjasama untuk membangun rumah sakit di pinggiran, seperti LKC Ciputat, dengan senang hati BAZNAS dan Dompet Dhuafa akan menjalankannya.

Rahmad Riyadi juga mengatakan, selama ini pendayagunaan zakat selalu berada di daerah pinggiran. Belum ada program layanan gratis yang dikembangkan di pusat kota. Jika muzaki ingin melihat langsung pemanfaatan zakatnya, mesti pergi jauh ke pelosok yang belum tentu mereka memiliki waktu. Selain itu, Rumah Sakit gratis di jantung kota ini juga untuk melayani kaum miskin di Ibu Kota yang jumlahnya tak kalah banyak dengan di pinggiran. “Yang tidak ada orang miskin itu kan di perumahan elitnya. Tapi kalau kita lihat di sudut-sudut gang, fakir miskin di jantung kota ini amat mudah ditemui. Menjamur malah”, tandas Rahmad meyakinkan.

Akan Diresmikan Presiden
Hari Senin lalu, Wakil Presiden Yusuf Kalla, di kediamannya di Menteng Jakarta Pusat, berbincang tentang kesehatan bagi kaum dhuafa. Dari silaturahim, antara direksi BAZNAS dan Dompet Dhuafa pagi itu, mencuat kegalauan hatinya, jika membandingkan penanganan kesehatan di luar negeri dengan di Indonesia.

Ia prihatin melihat cara dokter di Indonesia dalam menangani pasien. Menurutnya, dokter Indonesia terlalu sibuk sehingga tidak teliti. Cara melayani pasien dalam bentuk konsultasi masih asal-asalan. Sementara harga obat mahal. Dokter juga memberi obat terlalu banyak, dengan harapan, satu dari sekian obat bisa menyembuhkan.

Sebaliknya, di luar negeri, dokter memberi waktu konsultasi cukup lama dan teliti. Resep yang diberikan pendek, dengan biaya obat murah. Wajar, jika 5 – 10 persen orang kaya di Indonesia, jika di atas sakit kepala memilih berobat ke luar negeri. Sikap semacam ini, diakui Yusuf Kalla berbahaya, karena bisa berdampak pada hilangnya kepercayaan.

Sementara itu, dalam penanganan masalah kesehatan bagi masyarakat miskin, Yusuf Kalla mendukung langkah-langkah strategis yang dilakukan BAZNAS dan Dompet Dhuafa, dengan mendirikan layanan kesehatan gratis. Hal ini menanggapi akan diresmikannya Rumah Sehat Sunda Kelapa. Sedianya, rumah sakit empat lantai, yang berlokasi di halaman Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, ini, selain akan diresmikan Wapres Yusuf Kalla juga oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Jumat (14/9) nanti.

Meski akan diresmikan oleh Presiden dan Wakil Presiden, namun rumah sakit ini dibangun murni dari dana zakat, infak, dan wakaf masyarakat. Hal ini makin menguatkan, bahwa jika dana zakat dikelola secara amanah dan profesional melalui lembaga zakat, sejatinya mampu menunjukkan kekuatannya. Rencana kehadiran Presiden dan Wakil Presiden dalam acara itu, bukan sebuah panggung yang disedikan Dompet Dhuafa maupun BAZNAS. Melainkan sebuah harapan akan sebuah keberpihakan para pemimpin negeri ini pada masyarakat dhuafa.

Terlebih, berharap sebuah keberpihakan yang serius dari pemerintah pada masa depan zakat di Indonsia. Setelah melihat, fakta-fakta peran zakat yang dikelola secara benar.

Republika 070907

sunaryo adhiatmoko

Blog at WordPress.com.