Berita Zakat

June 19, 2008

Memberdayakan Kualitas Guru dengan Zakat

Filed under: Nesw — beritazakat @ 10:03 am

Memberdayakan Kualitas Guru dengan Zakat

Pahlawan tanpa tanda jasa. Gelar itu seringkali disematkan bagi kalangan guru. Meski saat ini pemerintah mulai memberikan perhatian atas nasib mereka, namun perhatian yang diberikan masih belum optimal. Hal itu karena pemberdayaan guru masih hanya dilakukan bagi guru sekolah negeri.

Menurut Ketua Yayasan Konsorsium Pendidikan Islam (KPI), Hamy Wahjunianto, berdasarkan hasil pengkajian sepanjang tahun lalu, masih cukup banyak guru di Indonesia terutama di Jawa Timur yang tidak berkualifikasi mumpuni untuk mengajar. Bahkan, banyak dari mereka yang salah penempatan. ”Ini terjadi di berbagai tingkat pendidikan dari SD hingga SMA,” katanya kepada Republika, Rabu, (18/6).

Hamy menyebutkan, dalam mendorong proses belajar mengajar berkualitas, terdapat empat hal penting yang perlu diperhatikan. Pertama, kemampuan guru dalam menguasai materi. Kedua, kemampuan guru dalam mengajar. Ketiga, kemampuan anak dalam belajar. Keempat, besar kecilnya motivasi belajar.

Menurut Hamy, guru memainkan peran penting dalam menjalankan keempat hal tersebut. Namun, tidak banyak dari mereka yang mendapatkan peluang untuk mengikuti program pemberdayaan kualitas pengajaran. ”Padahal, pengembangan diri bagi guru dalam mengajar penting agar pengajaran dapat berjalan dengan baik,” katanya.

Untuk mendukung pengembangan kualitas guru, Hamy menyebutkan, KPI menyelenggarakan berbagai program pemberdayaan guru. Program itu dilakukan sejak beberapa tahun lalu yang diawali dengan melatih berbagai guru terbaik dari sejumlah sekolah di Jawa Timur. Mereka dikirimkan ke berbagai lembaga pendidikan dan universitas untuk mendalami materi ajar dan teknik pengajaran dengan baik.

Beberapa materi ajar yang dilatih adalah Bahasa Indonesia, matematika, ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial. Selanjutnya, mereka menjadi pelatih bagi berbagai guru lain.

Sejak 2001 hingga akhir tahun lalu, KPI telah mengadakan pelatihan bagi 46.000 guru. KPI memiliki kapasitas pelatihan bagi 10.000 guru per tahun. Meski demikian, lembaga itu menargetkan bisa memberikan pelatihan bagi 12.000 guru.

Menurut Hamy, dalam menyelenggarakan pelatihan, KPI juga menerapkan model pengajaran sebagaimana digunakan di Sekolah Al-Falah dan Al Hikmah. Kedua sekolah itu termasuk dalam beberapa sekolah swasta terbaik di Surabaya. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, kedua sekolah sempat mendapat peringkat terbaik dalam ujian nasional.

Hamy mengharapkan, program pemberdayaan kualitas guru dapat terus dilakukan. Hal itu sehingga dapat membantu kualitas guru dalam mengajar. Dengan demikian, lulusan pendidikan di Indonesia memilki kualifikasi sumber daya manusia mumpuni.

KPI pertama kali didirikan pada 2000 lalu. Saat itu. KPI masih menjadi direktorat di bawah Lembaga Amil Zakat (LAZ) Yayasan Dana Sosial al Falah. Lalu, pada 1 Maret 2008, direktorat dipisahkan menjadi lembaga tersendiri. Sepanjang tahun lalu, dana zakat disalurkan dari YDSF sebagai modal pengembangan KPI tercatat sebesar Rp 2,4 miliar. Saat ini, YDSF tercatat sebagai anggota aktif forum zakat (FOZ).

(aru )

Blog at WordPress.com.